oleh

Menanggung Beban Hidup Seorang Diri Kakek Berusia 69 Tahun Terjerat Rentenir

Religi-kilasnusantara.com, Gunungkidul.  Seorang kakek penjual Somay berusia 69 tahun bernama Katijo yang tinggal seorang diri dalam rumahnya yang sudah reot beralamat di dusun Nogosari III, Desa Bandung, Kepanewon Playen, Gunungkidul terpaksa menanggung hutang jutaan rupiah pada salah satu bank lantaran dirinya sangat membutuhkan kendaraan bermotor roda dua sebagai sarana penunjang untuk menjajakan dagangannya berkeliling di daerah Putat, Patuk yang berjarak sekitar 30 KM dari rumahnya.

Motor yang jika di bayar tunai hanya seharga 3 juta rupiah itu, akhirnya kini jika di total menjadi berlipat ganda yakni sebesar 7,8 juta lebih lantaran ada nilai riba di dalamnya.

“Karena kalau beli kontan uangnya tidak cukup” jawab Katijo saat di tanya Bunda Liesky pimpinan umum RKN yang hari itu Jumat 22 April sedang ada giat membagikan bantuan berupa ‘Bingkisan Sembako Ramadhan’ di Wilayah Kepanewon Paliyan.

Katijo mengaku hal itu terpaksa dilakukan lantaran dirinya tidak memiliki penghasilan sama sekali jika tidak berjualan Somay. Sedang untuk menyambung hidupnya sendiri ia tidak mungkin mengharap belas kasihan orang lain.

Bunda Liesky dan Tim Religi Kilas Nusantara di Kediaman Mbah Katijo (kilasnusantara.com)

Selain motor hasil pinjaman riba dan dua panci usang, isi rumah Mbah Katijo memang tidak ada barang berharga lainya. Bahkan untuk memasak pun menggunakan tungku kayu seadanya.

Kepada Tri Heriyanto salah satu tim RKN Mbah Katijo sempat menunjukkan berkas pinjamanya dari sebuah Bank tempat ia mengambil kredit.

“Niki bukti angsuran yang harus saya bayarkan setiap bulan ke Bank” ungkapnya dengan tanpa bermaksud mengeluh melainkan dirinya ingin menunjukkan kedisiplinannya yang tidak pernah telat bayar setoran.

Hingga berita ini kami unggah, kedapatan angsuran Mbah Katijo masih tersisa selama satu tahun lagi dengan nilai angsuran dua ratus delapan puluh lima ribu rupiah.
Sedangkan selama bulan Ramadhan ini dirinya tidak berjualan sama sekali.

“Sak plok’e wulan poso niki kulo libur mboten sade (selama bulan puasa ini saya libur tidak jualan)” tambah Katijo dengan senyum getirnya.

Semoga pemerintah mampu menangani secara khusus masalah riba di Gunungkidul ini.

LR/Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *