Berjuang Hingga Menang ( Perempuan Tangguh ) – Part 2

Jiwa militan hendaknya di punyai oleh seluruh umat muslim. Agar padanya tak ada sifat gampang menyerah dan mudah loyo. Di mana ujian dalam hidup tak hanya berupa kerikil kecil namun berwujud batu yang kapan saat siap menghantam.

Ada kalanya kita sabar, namun sabar bukan berarti harus berhenti lalu menyerah. Ingat, sekecil apapun peran kita untuk kebaikan dan kemaslahatan ummat, hal itu tidak akan sia-sia. Dan siapapun kita, kita berhak turut andil di dalamnya, dalam kebaikan.

Jangan menciut nyali manakala kita dapati cercaan dan hinaan dari orang lain. Karena apapun yang kita kerjakan akan tepap tampak salah di mata orang yang dengki.
Sebab kecenderungan mereka adalah mencari kesalahan, bukan memperbaiki keadaan. Maka teruslah melangkah.

Jangan sekali kali terkecoh dengan kalimat yang mengatakan ‘Jangan menyerah sebelum kalah’
Ini adalah seruan yang menjebak untuk menghentikan perjuangan, bahwa perjuangan itu ada batas dan akhirnya. Yaitu berakhir ketika kalah.

Ketahuilah, bahwasanya istiqomah itu sampe ajal menjemput. Sampe nyawa terenggut. Sampe dunia di gulung oleh maut.

Maka, kalah bukan berarti harus menyerah, kawan!

“Ah. Kamu perempuan bisa apa” “Hey, perempuan itu di rumah saja” “Kenapa semua kegiatan di pamerin di FB, ada fotonya lagi, padahal bercadar” “Manhajmu apa sih..?”

Beri mereka senyuman termanismu.. lalu tetap teruskan langkah. Berusaha istiqomah. Agama ini masih butuh peran kita semua.

Belajar saja dari kesabaran para sahabat kala itu, dimana istiqomah betul-betul di uji dengan berbagai penderitaan dan rasa sakit.

Masih ingat, bagaimana kokohnya Ibunda Amar bin Yasir saat mempertahankan istiqomahnya dan harus mati dalam penyiksaan?

Seperti apa sakit dan pedihnya Masyitoh manakala menyaksikan anak-anak dan bayinya di goreng hidup2 pun dirinya hrs menemui kematianya dalam siksaan pula?

Kawan…
Masihkah kurang lengkap sejarah kita dalam mengisahkan bahwa Islam tegak di muka bumi ini lantaran kucuran darah para pejuang. Perjuangan berat para sahabat baik sahabat laki-laki maupun sahabat perempuan.
Dimana nyawa sebagai tebusan kemenangan, yang bukan hanya sekedar mempertahankan keimanan sendiri melainkan keimanan seluruh kaum muslimin di muka bumi. Karenanya mereka Pantang Menyerah Sebelum Menang.

Tidak sedikit Sahabat Rosul yang mati dalam perjuangan dan bahkan dengan cara penyiksaan.

Juga keterlibatan perempuan-perempuan tangguh di medan perang semisal
* Nusaibah binti Ka’ab, yang di juluki Perisai Rasululloh
* Ummu Umarah yang bergelar Singa Merah
* Juwairiah binti Abu Sofyan perempuan tangguh yang terjun langsung menggempur musuh saat Perang Yarmuk.
* Khaulah binti Azwar yang ahli strategi dalam kemiliteran yang juga terlibat dalam sejarah penaklukan negeri2 Syam.
* Rufaidah al-Anshariyah, Konglomerat cerdas penghafal Qur’an yang berperan sebagai tenaga medis di Perang Khandaq dan Perang Khaibar

Atau ada yang lupa.. Bahwa sebelum Indonesia merdeka, ada pula pejuang-pejuang perempuan yang turun langsung di medan pertempuran melawan penjajah. Semisal Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Martha Christina Tiahahu.

Juga pejuang dan pelopor akademisi seperti Dewi Sartika, Nyi Ageng Serang, RA Kartini.. dan masih banyak lagi.

Atau, engkau akan keluarkan hujahmu untuk menepis catatan sejarah atas keterlibatan perempuan-perempuan tangguh masa lalu ?
Bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan ?

Kawan..
Berpikir realistis.
Meski perjuangan ini bukan untuk mempersiapkan pertarungan senjata. Bukan adu fisik pula. Terlebih persiapan ‘combat’ dalam ‘battle’.

Namun perjuangan ini lebih kepada isi otak untuk berpikir dan berstrategi. Baik itu di dunia dakwah maupun dunia politik. Nyatanya tak bisa kita sangkal, bahwa Politik di negeri ini mampu menguasai dakwah. Namun dakwah tak mampu menguasai politik.

Maka jika tidak mau turut andil dalam nahi munkar, ya tidak perlu menggebosi yang pada akhirnya jadi bertengkar.

Atau jika merasa anti terhadap ilmu politik, tidak usah juga banyak kritik.

Nggak suka sama orang yang bercadar, ya nggak perlu banyak komentar.

Terlalu banyak memikirkan sisi negatif sesama aktivis hanya akan mencerai beraikan rasa persaudaraan dan mengikis semangat persatuan.

Hilangkan sifat hasad terhadap kawan sendiri, jangan lagi merendahkan kemampuan mereka dan menjadikannya buah gunjingan.

Kuatkan azzam, wahai para perempuan tangguh. Istiqomahlah dan serahkan dirimu pd Allah.

Oleh: Liesky Rennita

Editor: Sabrina Lindy Anjani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *