Bekal Sebelum Dan Sesudah Menikah

Spread the love

Bekal Sebelum Dan Sesudah Menikah

Gunungkidul,KilasNusantara.com-Dalam guyuran hujan yang turun sejak sore hari di Lapangan Pondok Pesantren Darush Sholihin Dusun Warak Girisekar, Panggang Gunungkidul, malam tadi Jum’at (7/10) jam 19.30 Tabligh Akbar bertajuk ‘Kupersiapkan Putra-putriku Untuk Menikah’ dengan penceramah Ustadz Badrussalam,Lc di gelar.

Ustadz Badrussalam yang di kenal dengan Abu Yahya ini rupanya menguasai betul dengan seluk beluk akan ‘ilmu perjodohan dan rumah tangga’, sehingga Pembina Yayasan Biro Jodoh Rumaysho Kyai Abduh Tuasikal pun mendapuknya untuk mengurai persoalan ‘jomblo’ dari sebelum hingga sesudah memasuki gerbang pernikahan.

Berikut isi kajian yang di rangkum secara rinci oleh Kyai Muhammad Abduh Tuasikal ST, MSc selaku Pimpinan Pondok Pesantren Darush Sholihin.

– Anak adalah nikmat Allah yang besar.
– Nikmat anak jangan disia-siakan.
– Orang tua pasti sayang pada anaknya.
– Banyak orang tua yang menyayangi anaknya tetapi tidak dengan ilmu. Akhirnya anaknya dibiarkan main hape, main game, sehingga anak tidak kenal waktu, tidak kenal belajar.
– Dalam Miftah Daar Sa’adah, sifat rahmat adalah isholul khoir wa daf’ul madhor dari orang yang kita sayangi. Kasih sayang harus diimbangi dengan ilmu. Pelajarannya dari surab Ghafir ayat 7.

Persiapan anak menuju pernikahan itu lama, persiapannya adalah:

(1) Kenalkan akidah, karena kehidupan rumah tangga tidak sepi dari problema; solusi mengatasi masalah rumah tangga adalah ketakwaan, anak harus diajarkan tentang tawakal, sabar.
– Wanita itu dinikahi karena empat hal: (a) kecantikan, (b) harta, (c) kedudukannya, (d) agama; pilihlah yang bagus agamanya pasti akan beruntung.
– Anak kita beragama, agamanya bagus, perlu dididik.

(2) Anak kita butuh suri tauladan. Mau tahu akhlak seorang akhwat, lihatlah pada ibunya. Anak laki-laki biasa gak jauh dari bapaknya. Anak bisa nakal karena pengaruh dari orang tuanya.

(3) Hindarkan anak dari hal-hal yang bisa merusak. Contoh pengaruh buruk adalah dari hape. Anak itu disayang dengan ilmu bukan perasaan. Kalau anak menggunakan hape: (a) sibukkan dengan hal manfaat, (b) batasi waktunya, (c) anak harus tetap perhatikan panggilan orang tua.

(4) Contohkan pada anak sifat Qana’ah, jangan punya sifat matre (mata duitan).

(5) Orang tua harus paham tentang psikologi anaknya, misal anak punya sifat pemarah, pahami kekurangannya sehingga kekurangan ini diatasi agar tidak jadi bencana kalau sudah menikah.

– Al-Qur’an itu mengisahkan nasihat ayah kepada anaknya, bukan nasihat ibu kepada anaknya. Coba baca surah Luqman. Karena nasihat ayah pada anak selalu menghujam dalam hati. Nabi Ya’qub itu menasihati anak-anaknya. Oleh karenanya, harus ada kedekatan antara bapak dan anaknya.

– Ada juga masalah dalam rumah tangga karena campur tangan mertua. Maka orang tua jangan terlalu banyak mencapuri rumah tangga anak.

Setelah mempersiapkan anak, mempersiapkan mencari calon untuk anak.

1. Orang tua (wali) harus carikan jodoh untuk anaknya. Anak perempuan jangan suruh cari jodoh sendiri. Seperti Umar tawarkan Hafshah pada Abu Bakar dan Umar, ternyata akan dipinang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anehnya orang tua sekarang, lihat anak putrinya gak pacaran, malah bilang gak normal.
2. Cari calon yang punya akhlak.
3. Cari yang rajin ibadah.
4. Cari yang siap bekerja (tidak mesti punya pekerjaan tetap), siap punya tanggung jawab nantinya pada istri dan anak.

Kiat-kiat untuk mempertahankan rumah tangga:

1. Suami dan istri harus mau memperbaiki diri. Karena akibat dosa menjadi cerai.
2. Harus mau saling menasihati. Suami mau dinasihati istri, istri harus mau dinasihati suami.
3. Sabar menghadapi kekurangan yang dimiliki pasangan. Suami istri pasti akan tahu kekurangan masing-masing. Namun, jangan fokus mengingat kekurangan, tetapi ingatlah kelebihan pasangan.
– Rumah tangga yang hebat bukanlah rumah tangga yang tidak ada pertengkaran. Rumah tangga yang sukses adalah yang bisa menyelesaikan pertengkaran dengan baik.
4. Jangan laki-laki mudah terbawa emosi. Kalau laki-laki terlalu terbawa emosi.
5. Suami istri harus selalu lembut pada pasangannya.

Allohu a’lam bii showab
(LR)

*editor: Sabrina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *