oleh

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal: Antara Ngarit Dan Ngaji Tauhid

Gunungkidul, KilasNusantara.com – Lantaran masih banyaknya masyarakat pedesaan yang belum memahami tentang hakikat ibadah dalam agamanya, hal ini menuntut kajian-kajian keilmuan harus terus di gelar tanpa henti, termasuk kajian Ahad Wage yang kemaren (12/06) di selenggarakan di Majelis Taklim Khoirun Na’imah (MTKN) desa Bendorejo Kapanewon Semanu Gunungkidul.

Kajian Ahad Wage adalah kajian bulanan tepatnya tiap 40 hari sekali yang hal ini sudah rutin di adakan khusus bagi jamaah di wilayah Kapanewon Semanu, di mana masyarakatnya masih butuh sekali bimbingan ilmu agama sebagaimana tergambar dalam judul di atas yakni belum pahamnya antara kewajiban beribadah lantaran masih memberatkan urusan rumah dan sawah.

”Sapi lebih penting dari ibadah sholat, lebih penting dari ibadah puasa, yang penting ngarit” ungkap Kyai Panggang Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal pimpinan Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul dalam menggambarkan kondisi masyarakat pedesaan yang rata-rata belum memperhatikan kewajiban ibadahnya sehari-hari lantaran lebih mementingkan urusan duniawi.

Kyai millenial yang sedang menyelesaikan program doktoralnya ini menegaskan bahwa untuk mengikis kebodohan masyarakat hendaknya mereka wajib menuntut ilmu, wajib ngaji. Agar dalam penerapan antara kewajiban dunia dan akhirat bisa seimbang.

Lebih lanjut beliau memaparkan sekaligus mencontohkan bagaimana tata cara tayamum dan membersihkan barang najis yang menempel dalam tubuh dan pakaian, yang kemudian mengarah kepada anjuran agar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat bisa membersihkan keyakinan dalam beragama dengan tidak mencampurnya dengan perbuatan syirik sebagaimana seseorang menjauhi barang najis.

Moga dengan ketelatenan dan kesabaran dakwah Pak Kyai asal Ambon ini masyarakat akan mudah menerima kajian tauhid.

Redaksi/LR

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *